Selamat Datang

Selamat Datang!!!di blog saya. blog ini berisi tentang atrikel,journal,bahan-bahan atau materi kuliah tentang kepariwisataan.silahkan anda melihat-liat dan boleh menanggapi atau kritik dan saran

Mengenai Saya

Foto Saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
More About aby Schools (Other): sdn 1 Nagrak sukabumi, sltpn 2 llg smkn 1LLg, UPI BDG Occupation: Student of Indonesia university of education Hobbies and Interests: foot ball, footsall, trip, etc. Favorite Books: Historical book, Biography!!! Favorite Movies: Departed, gang of New York, Man on Fire Favorite Music: Pop, Rock, pokokya yg enak didenger About Me: I'm Student of Indonesia university of education,majoring in Tourism Marketing.I was born i Jakarta,but I love my second hometown cause I was grow-up in there n my family still living in there!!!i'm enjoy man,friendly n honesly.

Manajemen Destinasi pariwisata

Senin, 10 November 2008



Pengertian detinasi pariwisata

Destinasi pariwisata adalah suatu entitas yang mencakup wilayah geografis tertentu yang didalamnya terdapat komponen produk pariwisata (attraction, amenities, accebilities) dan layanan, serta unsur pendukung lainnya (masyarakat, pelaku industri pariwisata, dan institusi pengembang) yang membentuk sistem yang sinergis dalam menciptakan motivasi kunjungan serta totalitas pengalaman kunjungan bagi wisatawan.





Tipologi Destinasi Pariwisata (UN-WTO)
1.Kawasan perairan/bahari (coastal zone)
2.Kawasan pantai (beach destination and site)
3.Kawasan gurun (destination in desert &Ariad areas)
4.Kawasan pegunungan (mountain destinations)
5.Kawasan Taman Nasional (natural & sensitive)
6.Kawasan ekowisata (ecotourism destinations)

Konsep Perencanaan Pariwisata

Merupakan aplikasi dari proses perencanaan umum (Inskeep,1991)
Untuk memenuhi kebutuhan, kesenangan dan pengalaman wisatawan;
Perencanaan Pariwisata yang berhasil; building success & Maintaining Success (Keiser Helber, 1978).

Building success, pertumbuhan four E’s ( economic, environment, enrichment, social and financial, exchange)
Mantaining success, Pariwisata bersifat dinamis berubah mengikuti treend dan permintaan pasar.

Mengapa pemerintah melakukan perencanaan pariwisata?

“Pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pariwisata karena dalam pengembangannya terdapat kemungkinan untuk menciptakan lapangan kerja serta menghasilkan pendapatan. Oleh sebab itu, pariwisata berpotensi untuk memberikan kontribusi dan meningkatkan perekonomian nasional dan daerah.
“Tourism is subject to direct and indirect government intervention often because of its employment and income producing possibilities and therefore its potential to diversify and contribute to national and regional economies” (Hall, 2000:18)

Mengapa sektor publik (pemerintah) terlibat dalam kepariwisataan?
Sebagai penggerak pembangunan dan pengembangan pariwisata
Alasan politis/political reason (e.g. border control, int’l image)
Pengelolaan sumber daya/Resource management (protecting the tourism product so that it remains viable and in tact)
Alasan Ekonomi/Economic reason (to maximise economic advantage)
Koordinasi lintas sektoral :
Agar dalam pengembangannya mendapat dukungan yang luas

Mengantisipasi Kegagalan Pemasaran
Industri pariwisata biasanya mengejar pasar yang sifatnya jangka pendek dan berfokus pada mencari keuntungan. Maka, terkadang mereka mengabaikan:
Issue lingkungan: regarding at as a free resource to exploit
Kebutuhan masyarakat sekitar: e.g. equal opportunities, equal access, health & safety...
Ketersediaan infrastruktur

Berdasarkan hal tersebut, maka pemerintah dapat mengintervensi agar pengembangan pariwisata dapat menghasilkan manfaat bagi masyarakat (social) dan lingkungan (environment).










Kualitas Destinasi Pariwisata

Dalam suatu penelitian Wet Tropics Destinations Image (1998:74) diindentifikasi persepsi dan penilian destinasi terhadap faktor citra suatu destinasi sebagai beriku:

1.kondisi jalan (Bagus- jelek)
2.bentang alam (eksotik biasa-biasa saja)
3.lingkungan (tidak aman-aman) dan otentik-Artifisial
4.masyarakat setempat (terdidik-tidak) dan ramah atau tidak
5.cendera mata (mahal-murah)
6.kenyamanan dalam perjalanan
7.transportasi umum
8.kawasan (padat-jarang)
9.cuaca
10.kondisi lingkungan (beranaka ragam-monoton)
11.binatang buas (dikenal-eksotik)

Dalam rangka mencermati suatu kualitas destinasi, terdapat parameter dasar dalam mengukur kualitas destinasi, anatara lain:

1.Quality of Services
2.Price of Services
3.Price/Value Relationship
4.Overall Quality
5.Time. To spend in The Destination

Selain itu , Atribut destinasi Pariwisata mencakup gambaran dasar mengenai:
Tipologi dan Varietas produk
Tingkat pajak domestik dan Import
Harga produk
Aktivitas penjualan dan pemasaran
Lokasi /Venue
Kondisi cuaca
Time of the year


Pengembangan Destinasi Pariwisata

Berbagai langkah dilakukan untuk mengembangkan destinasi pariwisata, sebagi berikut:
1.destination Research: Aggressive vs passive approach
2.Lodging Information: Rating scale,brand name, style of service
3.Restautant Information : level of quality,chain affilitation,numbers and location of seat,style of service
4.transportation:saf, reliable, good equipment, rest rooms
5.Attraction : group admision areas, quarented admission time, gift shop,rest area, food sercices, guide services
6.Guide sence and Sightseeing information
7.Shopping information : variety of shopping experiences, local crats/craffs people, food service, maps marketing materials, coupons, other activities (Fay,2001).

Dengan demikian dapat ditegaskan pentingnya menyaipkan informasi bagi destinasi dalam bentuk data dan informasi destinasi pariwisata seperti ensiklopedi destinasi pariwisata.

Berkenaan dengan perkembangan Destinasi Pariwisata, Middleton (1988) mengemukan dua kecenderungan yang saling bertentangan yang terjadi pada waktu mendatang:
Pertama, pembangunan berdasarkan tujuan, tertutup,sangat ketat kontrol lingkungan dan enclave- taman nasional berskala besar, dan kawasan yang ekslusif, jauh dari kehidupan sehari-hari.
Kedua, kecenderungan menuju pengalaman wisata yang bersifat otentik dan sensitif, kontak dengan lingkungan dan budaya setempat.

Pendekatan Destinasi Berbasis Sumberdaya (Resourced-besed Destinations) menerapkan perencanaan yang cermat, pengelolaan dan teknik interpretatif untuk menyediakan dan mendesain pengalaman bagi wisatawan sementara pada saat yang sama tetap melakukan proteksi terhadap sumberdaya.

Studi Plog (1987)mengenai karakteristik Psikografis dalam model Allcentric/Pschocentric Model, mengemukakan bahwa keterkaitan pengembangan destinasi dalam penelitian kepariwisataan yang mencakup:
Pengembangan Destinasi, menjelaskan konsep kawasan baru untuk dikembangkan, pasar yang akan dilayani, pelayanan dan amenitis yang disediakan bagi pengunjung.
Posisi produk, memfokuskan produk dan jasa terhadap kebutuhan dan psikologi pengguna utama yang lebih besar untuk menarik segmen pasar yang spesifik.
Pengembangan terhadap pelayanan, menentukan mana saja pelayanan utama yang harus diprioritaskan dan mana yang pendukung /sekunder.
Iklan dan promosi,
Pengemasan, disajikan sesuai dengan kebutuhan
Rencana induk, untuk melindungi keasrian dan keberlangsungan daya tarik destinasi, namun tetap memenuhi kebutuhan/permintaan wisatawan.

Bagi Voase (1995) konsep destinasi pariwisata sangat berkaitan dngan cita rasa(taste) yang dikenali memalui konsumsi wisatawan, sehingga atraksi dan event khusus (special event) sebagai unsur fisik yang membuat daya tarik bagi wisatawan.

Adapun perkembangan siklus Destinasi Pariwisata (Tourist Destination) oleh Butler (1980) dikelompokkan berdasarkan karakteristik perkembangan produk dan jumlah kunjungan pada periode waktu yang dilewati dari eksplomsi (perintis), dengan proses pelibatan maka destinasi bertumbuh popularitasnya dan jumlah kunjungan meningkat sehingga mencapai tahap development, dengan upaya yang tetap mencapai bentuk yang optimal dan harus melakukan upaya reinvest, destinasi mencapai tahap pemantapan (consolidation), namun pada saat tersebut pasar mulai mulai jenuh dan pada titik tersebut destinasi mengalami stagnasi dan dapat mengalami dedinestage manakala tidak terjadi upaya untuk melakukan inovasi dan terobosan-terobosan kreatif.

Inovasi Terhadap Destinasi Pariwisata

Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan oleh pemerintah sesuai dengan pembangunan nasional. Kepariwisataan Indonesia adalah pariwisata yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Berdasarkan konsep tersebut, maka konsep yang sebaiknya dipakai sebagai landasan adalah:
1.Pengembangan Pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism development), dan;
2.Pariwisata yang berbasis masyarakat (community based tourism).
Pembangunan pariwisata berkelanjutan, dapat dikatakan sebagai pembangunan yang mendukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial trhadap masyarakat (Ardiwijaya,2004).

Prinsip ini menekankan keterlibatan masyarakat secara langsung, terhadap seluruh kegiatan pembangunan pariwisata dari mulai perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Masyarakat diletakkan sebagai faktor utama, yang memiliki kepentingan berpartisipasi secara langsung dalam pengambilan keputusan. Cohen dan Uphof (1977) mengemukan bahwa partisipasi masyarakat dalam suatu proses pembangunan terbagi atas 4 tahap, yaitu;
1.Partisipasi pada tahap perencanaan;
2.Partisipasi pada tahap pelaksanaan;
3.Partisipasi pada tahap pemamfaatan hasil-hasil pembangunan, dan;
4.Partisipasi pada tahap pengawasan dan monitoring.


Strategi pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melaui dua pendekatan, yatiu, yang bersifat struktural dan non-struktural (Manshur Hidayat & Surochiem As). Pertama, pendekatan struktural adalah pendekatan makro yang menekankan pada penataan sistem dan struktur sosial politik. Pendekatan ini mengutamakan peran instansi yang berwenang atau organisasi yang dibentuk untuk mengelola potensi masyarakat. Dalam hal ini peran masyarakat sangat penting akan tetapi kurang kuat karena aspek struktural biasanya lebih efektif bila dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai wewenang, paling tidak pada tahap awal.

Kedua, pendekatan non-strukltural adalah pendekatan yang subyektif. Pendekatan ini mengutamakan pemberdayaan masyarakat secara mental dalam rangka meningkatkan kemampuan anggota masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan kepariwisataan. Kedua pendekatan itu harus saling melengkapi dan dilaksanakan secara integratif.



Discussion
Are there aspects of tourism planning that you believe should receive more attention?
Is there significant public input in the planning process?

Oleh : penulis disunting dari berbagai sumber

Labels:

0 komentar: